Monday, August 3, 2015

Cara Mengecilkan Ukuran Foto dari MB jadi KB

Hari ini saya mau posting tips mengecilkan ukuran foto dari ukuran MB (MegaByte) ke KB (KiloByte). Ketika kita mengharuskan mengupload foto dengan ukuran tertentu, disinilah kita membutuhkan aplikasi yang dapat memperkecil ukuran foto. Aplikasi yang saya rekomendasikan ini adalah Image Resizer for Windows. Aplikasi yang ringan, userfriendly dan sangat cepat serta ada pilihan ukuran yang ingin kita resize. It's so useful for you. Tinggal klik kanan di fotomu, langsung resize dech. 

Langkah-langkahnya :
  1. Download aplikasi DISINI 
  2. Install sampai prosesnya selesai
  3. Selanjutnya mengecilkan ukuran foto. Klik kanan foto yang akan disrezise, terus klik "Resize Pictures" 
  4. Aplikasi Rezise Pictures terbuka, lalu pilih ukuran yang diinginkan. Lalu klikResize.
  5. Selesai guys

Selamat ukuran fotomu menjadi kecil.. !!



Cara Membuka Token (BNI E-Secure) BNI Syariah yang Terblokir

Hari ini saya mau posting cara menghadapi token atau E-Secure BNI Syariah ataupun BNI Konvensional yang terblokir gara-gara salah masukin pin sebanyak 3x (3 Kali) dan akan muncul Lock atau Fail. Kalau ini sudah terjadi, kita nggak bisa bertransaksi dengan internet banking. Jangan panik dulu ya guys, akan ada solusinya ko. Postingan ini berdasarkan pengalaman saya juga, oleh karena itu saya akan share ke teman-teman yang barangkali memiliki nasib yang sama. Cara atau tips ini hanya berlaku yang memiliki token/E-Secure BNI Syariah maupun BNI Konvensional.



Hal-hal yang perlu disiapin :
1. Buku Tabungan
2. KTP
3. E-Secure atau Token
4. User ID Login Internet Banking
5. Pulsa yang cukup

Langkah-langkahnya :
1. Menelpon Call Canter BNI (021) 500046
2. Nanti akan ada pilihan, pilih dan klik 0 terus klik 1
3. Selanjutnya akan terhubung dengan CS BNI, disitu kita jelasin bahwa BNI E-Secure terblokir.
4. CS akan meminta data utama nasabah seperti No. Rekening dan Nama Lengkap
5. CS akan meminta angka yang muncul di token. (jangan lupa pencet Play di tokennya)
6. CS akan meminta data pendukung seperti No. HP/Telp yang terdaftar, Tempat/Tanggal Lahir, Nama Ibu Kandung, User ID Internet Banking.
7. CS akan meminta No. Seri Token/E-Secure yang ada di belakang token
8. CS akan meminta data pendukung tambahan seperti No. KTP, dan akan menanyakan buka rekening di cabang mana.
9. Selanjutnya CS meminta kita untuk menunggu guna memverifikasi data kita (Pada proses ini, HP jangan dimatiin. Tetap menunggu sampai CS kembali)
10. CS kembali dan memberikan No. PUK. Masukkan no. PUK ke token tersebut, ganti pin yang baru.
11. Selesai

Wednesday, May 20, 2015

Pengaruh Dari Gejala Involusi Perkotaan

“Permukiman Kumuh pada Masyarakat Miskin    
Pengaruh Dari Gejala Involusi Perkotaan Di Bandar Lampung”
(Studi Kasus di Pesisir Pantai Teluk Kawasan Sukaraja)
 
Satu kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa telah terjadi pemukiman yang kumuh pada masyarakat miskin akibat dari involusi perkotaan. Penulis mecoba menggunakan teori involusi Geertz dalam melihat sebuah kemiskinan didaerah perkotaan. Kemiskinan yang kian membelit menjadi perangkap dalam sebuah perubahan wilayah dari daerah yang luas menjadi daerah yang sempit. Akibatnya kualitas lingkungan menjadi rendah. Dalam konsep involusi perkotaan yang dikemukakan oleh Geertz bahwa suatu keadaan yang semakin semrawut  tak terkendali. Selain itu penataan kota yang tak seimbang dan dibarengi dengan jumlah penduduk yang begitu padat, pemukiman yang berjejal, penyebaran penyakit dimana-mana, dan sebagainya.

Membahas permasalahan kemiskinan tidak pernah ada habisnya dari waktu ke waktu. Kemiskinan seakan telah mendarah daging di negara ini dan menjadi sebuah “lingkaran setan” yang terus membelenggu individu-individu dan kelompok-kelompok yang terjerembab masuk didalamnya.
Kita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.

Kemiskinan selalu diidentikkan dengan desa, senyatanya kemiskinan yang melanda di perkotaan pun tak kalah pelik dan mirisnya. Meskipun dekat akan sarana dan fasilitas besar para pemegang kekuasaan negara ini, masyarakat yang kurang beruntungpun harus menempati area yang tak layak huni untuk tempat tinggal. Permasalahan tanah dan perumahan ini acapkali menjadi persoalan yang melilit masyarakat kota. Terlebih mereka yang bekerja disektor informal dengan penghasilan yang hanya cukup bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Alhasil mereka hanya bisa mendirikan gubuk-gubuk kecil yang berkerumun dipinggir-pinggir kota yang dekat untuk mencari nafkah . Hal tersebut menjadi persoalan yang sering dikeluhkan masyarakat yang kurang bahkan tidak beruntung ini yakni mengenai perumahan atau tempat tinggal mereka yang terkait rendahnya kualitas lingkungan tempat tinggal. Sehingga muncul area-area pemukiman yang padat penduduk dan hampir terdapat disetiap sudut kota.

Kondisi seperti itu dianggap sebagai bagian yang merusak keindahan tata kelola permukiman kota dan harus disingkirkan. Banyaknya pemukiman kumuh dan hunian liar dipinggir-pinggir kota menunjukkan bahwa masih adanya titik-titik lokasi kemiskinan didaerah tersebut. Bandar Lampung sebagai daerah ibu kota yang tak luput dari pemandangan pemukiman kumuh (slums area) dan hunian-hunian liar dipinggir kota. Salah satu penyebab munculnya perkampungan kumuh dan hunian liar yakni derasnya arus urbanisasi yang menambah kepadatan penduduk dikota-kota besar. Sebagai contoh, hingga tahun 2010, kepadatan penduduk Bandar Lampung  mencapai 8.142 jiwa/Km2.

Seiring dengan proses industrialisasi yang terjadi di perkoataan, memicu pula munculnya perkampungan kumuh. Keberadaan perkampungan kumuh ini dikaitkan dengan gejala perubahan struktur ekonomi, urbanisasi dan perkembangan kota. McGee (1971) dalam Effendi (1995:165-166) mengemukakan bahwa : “Munculnya masalah sosial dan kantong-kantong pemukiman miskin di kota sebagai akibat “urbanisasi semu” (pseudo urbanization) di mana proses urbanisasi di negara-negara sedang berkembang tidak sejalan dengan perkembangan ekonomi. Keadaan ini cenderung memunculkan “involusi kota” dimana penduduk kota didorong masuk ke sektor informal dan belum tentu dapt memberikan kehidupan yang layak.”

Berdasarkan kondisi yang seperti itu maka tidaklah menutup kemungkinan bahwa keberadaan permukiman kumuh dan hunian liar akan selalu ada di kota-kota. Para pekerja informal terpaksa menempati daerah-daerah yang padat dengan kondisi fisik yang sangat tidak memadai dan minim bahkan jauh dari kategori kualitas lingkungan yang layak huni.

Referensi :
 Saifudin, Achmad Fedyani. 2011. Antropologi Sosialbudaya. Depok : IAI
 Effendi,Tadjuddin Noer.1995.Sumber Daya Manusia, Peluang Kerja dan Kemiskinan.Cet.II.Tiara Wacana:Yogyakarta.300hlm
 Suryawati, Chriswardani.2005. Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional. Dalam JMPK Vol.08/No.03/September/2005.

Melek Global Tetapi Tidak Melek Kebangsaan

“Melek Global Tetapi Tidak Melek Kebangsaan”
(Studi Tentang Budaya Lokal, Nasional, dan Global)

Dalam era yang seolah membuat dunia menjadi tanpa sekat dan tak terbatas oleh ruang dan waktu, era globalisasi sangat berkaitan dengan kompetisi dan kapabilitas seseorang untuk bertahan dalam hidup. Setiap individu dituntut untuk bisa menyesuaikan dan beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Internasional yang semakin mengglobal.

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.

Saya melihat kini semakin hilang rasa cinta bangsa ini terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri yang terus membanjiri Indonesia, seperti Mc Donald, KFC, Coca Cola, Pizza Hut, dll. Banyak anak-anak muda maupun kalangan dewasa lebih senang berbelanja di Mall semacam Carrefour dibandingkan berbelanja di pasar-pasar tradisional. Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan pudarnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?

Perlu kita sadari bersama, semangat nasionalisme merupakan salah satu modal utama yang harus dimilikibangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman-ancaman ketahanan nasional sebagai dampak negative globalisasi. Tanpa adanya semangat nasionalisme, maka akan timbul perpecahan dan disintegrasi bangsa Indonesia. Tanpa adanya semangat nasionalisme dalam setiap jiwa bangsa Indonesia, maka akan dengan mudah bangsa lain mengobrak-abrik bahkan menjajah kembali Indonesia. Tentu saja ini semua tidak kita inginkan terjadi, walaupun sebenarnya kini sudah mulai muncul tanda-tanda akan hal itu. Solusi bijak untuk keluar dari semua ini adalah kita bangsa Indonesia harus bangkit kembali dengan semangat nasionalisme yang lebih besar lagi, tentu semangat nasionalisme sejati. Semangat nasionalisme yang tulus ikhlas dari dalam hati, bukan karena inginkan sesuatu (timbal balik).

Referensi :
Saifudin, Achmad Fedyani. 2011. Antropologi Sosialbudaya. Depok : IAI

Sosiologi Lingkungan "Sebuah Paradigma Baru"

Judul : Environmental Sociology “A New Paradigm”  (Sosiologi Lingkungan “Sebuah Paradigma Baru”)
Penulis : William R. Catton dan Riley E. Dunlap
Penerbit : Washington State University, American

RINGKASAN :
Akhir 1970-an adalah era pertumbuhan yang dinamis dari lingkungan sosiologi Amerika.  Masalah lingkungan  mewakili apa yang disebut masalah sosiologi lingkungan. (Dunlap dan Catton 1979). Sebagai ilmuan sosial yang lebih memerhatikan masalah lingkungan, beberapa mulai untuk melihat melampaui perhatian masyarakat terhadap masalah lingkungan ke hubungan yang mendasari antara modern, masyarakat industri dan lingkungan fisik yang mereka tempati. Kepedulian dengan penyebab pencemaran lingkungan adalah dilengkapi dengan fokus pada dampak sosial dari polusi dan keterbatasan sumber daya.
 
Berbeda dengan Human Exemptionalist Paradigm  (HEP) , Catton dan memajukan Dunlap "New Environmantal Paradigm (NEP) " yang mereka melihat sebagai lensa mental yang bersaing dan dasar untuk pembenahan teori sosial. Asumsi utama dari NEP adalah sebagai berikut :
1. Meskipun manusia memiliki karakteristik yang luar biasa (budaya, teknologi, dll), mereka hanya satu di antara banyak spesies yang saling bergantung yang terlibat dalam ekosistem global.
2. Urusan manusia dipengaruhi tidak hanya oleh faktor sosial dan budaya, tetapi juga oleh hubungan yang rumit sebab, efek, dan umpan balik dalam wadah alam, dengan demikian tujuan tindakan manusia memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan banyak.
3. Manusia hidup dan tergantung pada lingkungan biofisik terbatas yang memberlakukan pengekangan fisik dan biologis kuat terhadap urusan manusia.
4. Namun banyak cipta manusia atau kekuatan berasal daripadanya mungkin tampak untuk sementara melampaui daya-dukung, hukum ekologi tidak dapat dicabut.
New  Environmantal Paradigm (NEP) alternatif ekologis dari Human Exemptionalist Paradigm.


KOMENTAR :
Dimana praktek sosiologi untuk masa yang akan datang  harus melihat hubungan antara manusia/masyarakat dan lingkungan biofisik, di jurnal ini dibahas anjuran untuk suatu paradigma baru bagi hubungan antara manusia/masyarakat dengan lingkungannya sehingga disiplin ilmu ini tidak lagi mengabaikan hubungan masyarakat dengan lingkungan biofisiknya.
Untuk keberlagsungan  kehidupan manusia/masyarakat dimasa yang akan datang, yaitu Human Expetionalism Paradigm (HEP) yaitu paradigma yang beraliran antroposentism (manusia sebagai pusat atau penentu alam) ke paradigma baru yang lebih mengacu pada lingkungan yaitu New Environmental Paradigm (NEP) tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan ekologisnya, dengan demikian diharapkan adanya kestabilan di fungsi lingkungan bagi kehidupan manusia.