News Update :
Home » » Perubahan Sosial

Perubahan Sosial

Penulis : Monalia Sakwati on Rabu, 14 Desember 2011 | 19.25

Mata Kuliah : Perubahan Sosial 



1.  Pengertian Perubahan Sosial
Perubahan sosial yang menunjuk kepada perubahan fenomena sosial baik individu maupun kelompok pada struktur maupun proses sosial, pada hakikatnya dapat dipelajari baik itu tentang sebab-sebab terjadinya, bagaimana proses perubahan itu terjadi, maupun pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan sosial tersebut. Apakah perubahan sosial itu? Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Perubahan sosial dapat juga diartikan sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga sosial dalam suatu masyarakat. “Perbahan sosial” mengacu pada variasi hubungan antar individu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu (Ritzer, 1987: 560). Sosiolog lain mengemukakan bahwa perubahan sosial adalah modifikasi atau transformasi dalam pengorganisasian masyarakat (Persel, 1987: 586).

Dari dua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial merupakan segala transformasi pada individu, kelompok, masyarakat, dan lembaga-lembaga sosial yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Pembentukan suatu lembaga desa, pengadoptasian metode keluarga berencana oleh suatu keluarga adalah merupakan contoh perubahan sosial. Perubahan, baik dari fungsi struktur maupun struktur sosial adalah terjadi sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan tersebut diatas. Struktur suatu sistem terdiri dari berbagai status individu dan status kelompok-kelompok yang teratur. Fungsi dan struktur sosial berhubungan sangat erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam proses perubahan sosial, jika salah satu berubah maka yang lain akan berubah juga.

Dalam wujudnya perubahan sosial itu terjadi melalui berbagai bentuk perubahan, dari evulusi sosial universal seperti yang dikemukakan oleh Hebert Spencer (1820-1903) dalam motto-nya “the survival of the fittest” , yaitu daya tahan dari jenis atau individu yang mempunyai cirri-ciri yang paling cocok (paling pandai, paling kuat, paling berkuasa) dengan lingkungannya. Bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menolak evolusi sosial (baik yang berwujud nonorganis, organis, maupun superorganis), karena didorong oleh kekuatan yang disebutnya evolusi universal (Laeyendecker, 1991: 207).

Kemudian perubahan sosial berdasarkan siklus seperti yang dikemukakan Pitirim Sorokin (1889-1968) yang tertuang dalam karyanya Social and Cultural Dynamics (1937). Namun sebelumnya juga terdapat suatu pendekatan berdasarkan siklus yang menggunakan pendekatan spiral yang menaik dipelopori oleh seorang filosof sejarah Italia yakni Vico yang hidup pada zaman abad Pencerahan dalam karyanya The New Science (1725). Menurutnya gerak perubahan sosial itu. Kemudian berkembang faham gerak sosial (sejarah) itu secara progresif semakin maju. Inilah yang disebut aliran ‘developmentalisme” (yang di dalamnya meliputi Evolusionisme maupun Marxisme), yakni suatu pendekatan yang beranggpapan bahwa kualitas dan keteraturan proses sejarah ditentukan oleh oleh logikanya sendiri atau oleh kekuatan dari dalam (Sztompka, 2004: 211). Namun akhirnya pendapat developmentalisme itu sekarang hampir mengalami kematian setelah Karl R.Popper, Robert Nisbet, Charles Tilly, dan Immanuel Wallerstein mengkritik pandangan developmentalisme tersebut.

2.  Faktor-faktor Penyebab Perubahan Sosial

Berbicara mengenai perubahan sosial, kita mau tidak mau harus membahas mengenai faktornyang menyebabkan perubahan itu terjadi. Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan pada masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Secara garis besar faktor penyebab perubahan dapat dikelompokkan dalam dua perspektif, yaitu materialistic factors dan idealistic factors

Perspektif Materialis
Kubu perspektif materialis memandang bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya faktor material yang menyebabkannya. Faktor material tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi dan teknologi yang berhubungan dengan ekonomi produksi. Pada dasarnya, perspektif ini menyatakan bahwa teknologi baru atau moda produksi baru menghasilkan perubahan pada interaksi sosial, organisasi sosial dan pada akhirnya menghasilkan nilai budaya, kepercayaan dan norma. Perspektif materialistis bertumpu pada pemikiran Marx yang menyatakan bahwa kekuatan produksi berperan penting dalam membentuk masyarakat dan perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.
Peran penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam masyarakat. Masuknya teknologi telah dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya menghasilkan kesempatan kerja pada industri-industri baru yang bermunculan di kota besar. Perubahan lain yang sangat mendasar adalah munculnya kelas ekonomi baru yaitu kaum pemilik modal (pengusaha) dan buruh. Mode produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.
Tipe-tipe moda produksi, antara lain :
1.      Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.
2.      Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.
Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal. Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan “pengorbanan” yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.
Marx melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi “korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi.
Menurut Marx terdapat tiga tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial, yaitu :
  1. Perubahan sosial menekankan pada kondisi materialis yang berpusat pada perubahan cara atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.
  2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan.
  3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.
Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material tersebut.
Selain Marx, tokoh yang menyajikan pendapat tentang perspektif materialis adalah Ogburn. Ogburn menyoroti mengenai teknologi yang telah menyebabkan perubahan sosial di Amerika. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag.
Teknologi dapat menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
  1. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin dengan bantuan teknologi.
  2. Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.
  3. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan hidup baru bagi masyarakat.

Perspektif Idealis
Berbeda dengan kubu materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor non material. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat.
Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber. Weber memiliki pendapat yang berbeda dengan Marx. Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktor penyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga tidak menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :
  1. Rasionalitas tradisional.
  2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.
  3. Rasionalitas afektif.
  4. Rasionalitas instrumental.
Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata. Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.
Tokoh lain adalah Lewy yang memperjelas pendapat Weber tentang peranan agama dalam perubahan sosial. Lewy mengambil contoh sejarah yang menggambarkan bahwa nilai-nilai agama mempengaruhi arah perubahan. Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris, kebangkitan kembali Islam di Sudan, pemberontakan taiping dan boxer di China. Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkal bahwa kondisi material mempengaruhi perubahan sosial. Namun demikian kita tidak dapat hanya memahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor material saja.
Ideologi mampu menyebabkan perubahan paling tidak melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
  1. Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan perubahan.
  2. Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan.
  3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti perbedaan dan permasalahan yang ada pada masyarakat.
Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu materialis yang dipelopori oleh Marx dan kubu idealis yang dipelopori oleh Weber. Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide dasar pemikiran Marx, namun dia tidak sependapat untuk menempatkan manusia sebagai robot. Pada masyarakat modern, Marx dan Weber memiliki kesamaan pandangan, bahwa masyarakat modern telah diikat dengan spirit kapitalisme.



3.  Proses Perubahan Sosial

Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahap berurutan :

1.      invensi yaitu proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan.
2.      difusi ialah proses di mans ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam Sistem sosial, dan
3.      konsekwensi yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunysi akibat. Karena itu perubahan sosial adalah akibat komunikasi sosial.

Beberapa pengamat terutama ahli anthropologi memerinci dua tahap tambahan dalam urutan proses di atas. Salah satunya ialah pengembangan inovasi yang terjadi setelah invensi sebelum terjadi difusi. Yang dimaksud ialah proses terbentuknya ide baru dari suatu bentuk hingga menjadi suatu bentuk yang memenuhi kebutuhan audiens penerima yang menghendaki. Kami tidak memaaukkan tahap ini karena ia tidak selalu ada. Misalnya, jika inovasi itu dalam bentuk yang siap pakai. Tahap terakhir yang terjadi setelah konsekwensi, adalah menyusutnya inovasi, ini menjadi bagian dari konsekwensi.


4.  Macam-macam Perubahan Sosial

Salah satu cara yang berguna dalam meninjau perubahan sosial ialah dengan memperhatikan dari mana sumber terjadinya perubahan itu. Jika sumber perubahan itu dari dalam sistem sosial itu sendiri, dinamakan perubahan imanen. Jika sumber ide baru itu berasal dari luar sistem sosial, maka yang demikian disebut perubahan kontak.

Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan mengembangkan ide baru dengan sedikit atau tanpa pengaruh sama sekali dari pihak luar dan kemudian ide baru itu menyebar ke seluruh sistem sosial. Sedangkan perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial memperkenalkan ide baru. Perubahan kontak adalah gejala “antar sistem”. Ada dua macam perubahan kontak, yaitu perubahan selektif dan perubahan kontak terarah. Perbedaan perubahan ini tergantung dari mana kita mengamati datangnya kebutuhan untuk berubah itu, dari dalamkah atau dari luar sistem sosial.

Perubahan selektif terjadi jika anggota sistem sosial terbuka pada pengaruh dari luar dan menerima atau menolak ide baru itu berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan sendiri. Tersajinya inovasi itu sendiri secara spontan atau kebetulan; penerima bebas memilih, menafsir, atau menolak ide baru itu. Perubahan kontak terarah atau perubahan terencana adalah perubahan yang disengaja dengan adanya orang luar atau sebagaian anggota sistem yang bertindak sebagai agen pembaharu yang secara intensif berusaha memperkenalkan ide-ide baru untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh lembaga dari luar. Inovasi dan kebutuhan untuk berubah datang dari luar sistem.

Ada teoritikus besar perubahan sosial yang menganggap perubahan kontak terarah (pembangunan) itu tidak perlu. Akan tetapi August Comte tetap mempertahankan pendapat bahwa perubahan terarah itu berguna, sebagai kebalikan dari teori Darwinismesosialnya Herbert Spencer. Ini berarti Comte membantah teori taken-fair komplit dan survival of the fittest yang evolusioner. Pada abad sekarang ini sebagian besar pemerintahan nasional menunjukkan kecenderungan yang jelas mengikuti pendekatan Comte. Pemerintah-pemerintah nasional itu ingin lebih meningkatkan taraf kehidupan rakyatnya, suatu tujuan yang hanya dapat dicapai dengan program-program yang betul-betul terencana. Program perubahan yang terencana ini merupakan reaksi ketidakpuasan terhadap lambannya perubahan yang dihasilkan oleh perubahan imanen maupun perubahan kontak selektif.

Dalam arti luas mungkin benar bahwa sebagian besar perubahan sosial yang terjadi lebih banyak bertipe spontan daripada yang berencana. Jika penduduk secara teknis sudah lebih ahli dan lebih pandai mendiagnosa perubahan mereka sendiri, maka perubahan kontak selektif akan dapat terjadi lebih cepat dan lebih efisien. Dalam hal ini agen pembaru mungkin akan bekerja di luar tugasnya atau setidaktidaknya dalam peranan yang barbeda. Agen pembaru harus memenuhi permintaan-permintaan inovasi dari kliennya. Tetapi pada umumnya para klien itu belum tahu apa kebutuhan mereka dan inovasi mana yang cocok untuk kebutuhan tersebut, sehingga perubahan yang lebih tepat diterapkan adalah perubahan terencana. Jika agen pembaru juga berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian kliennya untuk menganalisis kebutuhannya, make pada masa mendatang mungkin akan lebih mudah terjadi perubahan imanen atau perubahan kontak selektif yang lebih cepat dan efisien. Umumnya perubahan terencana tidak selalu identik dengan keberhasilan. Keinginan untuk mempercepat perubahan telah menyebabkan lebih cepat laju peranan ilmu pengetahuan tentang bagaimana memperkenalkan inovasi ke masyarakat.. Jika hasil-hasil penelitian komunikasi yang dilakukan dalam penyebaran ide-ide baru itu dikumpulkan dengan baik, kita akan dapat menggunakannya untuk merencanakan program perubahan terencana secara lebih efektif.


5.  Ciri-ciri Perubahan Sosial

Tidak semua gejala-gejala sosial yang mengakibatkan perubahan dapat dikatakan sebagai perubahan sosial. Lantas, bagaimana mengidentifikasi gejala-gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat sebagai suatu perubahan sosial? Dewasa ini, perubahan-perubahan sosial dapat diketahui karena adanya ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri yang dimaksud antara lain:
1.     Setiap masyarakat tidak akan berhenti berkembang karena mereka mengalami perubahan baik lambat maupun cepat.
2.     Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti dengan perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya.
3.     Perubahan sosial yang cepat dapat mengakibatkan terjadinya disorganisasi yang bersifat sementara sebagai proses penyesuaian diri.
4.     Perubahan tidak dibatasi oleh bidang kebendaan atau bidang spiritual karena keduanya memiliki hubungan timbal balik yang kuat.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa masyarakat bersifat dinamis, artinya masyarakt selalu bergerak dan mengalami perubahan dengan cepat. Dengan demikian, setiap kehidupan masyarakat di mana pun mengalami perubahan tanpa terkecuali.


7.  Perpustakaan Sebagai Agen Perubahan Sosial

Penerapan program masyarakat dari budaya lisan ke dalam budaya baca/tulis mengharuskan terjadinya perubahan terlebih dahulu. Program-program yang diterapkan di dalam proses pembangunan (yang merupakan perubahan sosial yang direncanakan) kadang-kadang tidaklah sesuai dengan tradisi yang ada. Semua itu diperlukan serangkaian kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk melembagakan program tersebut. Untuk dapat melaksanakan perubahan tersebut, diperlukan pihak-pihak yang mampu berfungsi sebagai inspirator.

Inspirator tersebut harus mempunyai kemampuan untuk menyelaraskan tradisi dengan modernisasi (perubahan ke arah yang lebih baik). Di dalam penyelarasan tersebut senantiasa akan timbul tahapan purna tradisional dan tahap pra modern, yang biasanya menimbulkan masalah-masalah yang sulit untuk diatasi, karena berada di dalam suatu masa transisi.

Perpustakaan sebagai suatu institusi/lembaga yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan perubahan tersebut dapat menghimpun pemikiran-pemikiran manusia ke dalam suatu bentuk penulisan yang bertujuan untuk proses belajar tanpa batas seluruh anggota masyarakat. Menurut ”Ranganathan” bahwa perpustakaan adalah organisme yang tumbuh. Tempat tumbuhnya suatu perpustakaan adalah dalam masyarakat dan kebudayaan.
Kebudayaan berisi 2 (dua) dimensi yaitu

1. Wujud kebudayaan, misalnya brupa gagasan, konsep dan pikiran manusia, atau suatu rangkaian kegiatan dan bahkan bisa berupa benda (mulai dari sendok nasi sampai peluru kendali)
2. Isi kebudayaan, ada bermacam-macam, mulai dari bahasa sampai teknologi, mulai dari sistem ekonomi sampai religi dan kesenian.
Di manakah kita dapat menempatkan perpustakaan dalam kebudayaan? Kita dapat melihatnya dari apa yang selama ini dikelola oleh sebuah perpustakaan, yaitu buku (yang telah mengalami evolusi luar biasa, termasuk telah menjadi digital seperti sekarang ini) dan kegiatan membaca yang secara historis merupakan titik perhatian kegiatan perpustakaan.

Buku adalah rekaman pengetahuan (records of knowledge) dalam pengertian yang sangat luas dan yang termasuk dalam kategori isi budaya. Pengetahuan bisa direkam ketika bentuk-bentuk simbol, yang semula hanya bisa diwujudkan lewat bahasa lisan, berhasil dilestarikan dalam bentuk bahasa tulisan dan dipertahankan pada berbagai jenis media. Jadi hampir pasti dapat dikatakan, bahwa perpustakaan adalah isi dan wujud dari kebudayaan yang sudah mengenal tulisan dan media. Kebudayaan yang demikian ini seringkali diberi nama kebudayaan yang sudah beradab.

Sementara itu, dalam ilmu sosiogi dikenal istilah institusi dan sistem. Perpustakaan sebagai institusi sosial harus memiliki struktur yang telah bertahan sepanjang waktu tertentu di wilayah yang luas (misalnya, negara Indonesia). Sedangkan sebagai sebuah sistem sosial, perpustakaan adalah interaksi antar anggota masyarakat yang dijalankan secara terus-menerus sehingga terpola dan terlihat sebuah kegiatan rutin. Dalam interaksi ini, anggota-anggota masyarakat memanfaatkan tata-aturan dan sumberdaya yang adalah struktur sosial.

Perpustakaan adalah sistem sosial yang di dalamnya mengandung interaksi antar berbagai pihak secara terus-menerus. Untuk melakukan interaksi ini diperlukan kegiatan komunikasi, penggunaan kekuasaan/wewenang, serta penerapan sanksi-sanksi sosial. Semua kegiatan tersebut hanya dapat dilakukan jika ada skema interpretasi, alokasi fasilitas, dan norma-norma. Skema interpretasi memungkinkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perpustakaan berkomuniksi satu sama lainnya. Alokasi sarana memungkinkan pihak-pihak yang berinteraksi mencapai tujuan masing-masing maupun tujuan bersama, sekaligus menentukan struktur hubungan dominasi antar mereka

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com, Mimbar Pustaka Jatim No 01/Th./januari-Maret 2007[ p.16-17]
www.google.com. Bahan Ajar Pengantar Sosiologi
www.google.com, scribd, Sosiologi Kelas XII SMA
Lauer, Robert H. (2001) Perspektif Tentang Perubahan Sosial, Alih BahasaAlimandan S.U., Jakarta: Rineka Cipta.
Soekanto, Soerjono, (1984) Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Soekanto, Soerjono, (1986) Sosiologi: Suatu Pengantar, Jakarta: Penerbit CV.Rajawali Press.

Share this article :

Poskan Komentar

Comment disini yach,, Please jgn ngrim yg spam dch.. okokok.. mksih ..

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Monalia Sakwati . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger