News Update :
Home » » Teori Sosiohistoris Perkembangan

Teori Sosiohistoris Perkembangan

Penulis : Monalia Sakwati on Monday, November 21, 2011 | 12:37 AM

Mata Kuliah : Perubahan Sosial



Teori-teori Sosiohistoris: Perkembangan

Perubahan sosial menurut proses linear dapat mengarah kekemajuan / kemunduran.  Manusia hidup dalam lingkaran kehidupan berbentuk spiral. Konsep linier tentang sejarah, terlihat dalam karya St. Angustine “kebangkitan, kemajuan dan tujuan yang ditentukan dari dua kota, yakni kota Tuhan dan kota Dunia”. Kedua kota itu mempunyai keyakinan berbeda dan akan dipisahkan oleh pengadilan akhirat.
Bila kemajuan dibayangkan tidak menurut kemajuan berkepanjangan dari masa lalu byang panjang ke belakang hingga kemasa depan yang abadi, tetapi menurut “kebudayaan manusia dan kemajuan intelektual setelah melampui periode yang sangat panjang”, maka baik pemikir Yunani maupun Romawi, berpedang pada pemikiran tentang kemajuan.
Condorcet menyatakan kemajuan manusia dengan penuh semangat dan pujian. “bahwa kesempurnaan kemampuan manusia tak terbatas, kemajuan ini tak terbatas kecuali karena terbatasnya usia bumi tempat kita hidup ini”.  Ia mengakui, tingkat kemajuan mungkin berbeda, namun tak ada kemungkinan tetap / mundur.
Teoritisi perkembangan menyatakan bahwa pada dasarnya pola evolusi manusia dan masyarakat berlangsung lambat, namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik. Teoritis lain menekankan pada konflik / pola dialektika dari perkembangan sosial.


PERKEMBANGAN EVOLUSIONER
AUGUSTE COMTE
Comte membagi sosiologi menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Soiologi statis didasarkan atas asumsi filosofis yang menyatakan bahwa masyarakat adalah organisme yang disatukan oleh konsensus, karenanya selalu terdapat keharmonisan spontan antara keseluruhan dan bagian sistem sosial (masyarakat).
Sosiologi dinamis adalah tentang urutan perkembangan manusia, dan setiap tahap dalam urutan itu adalah akibat penting dari tahap sebelumnya. Leibniz menegaskan “keadaan sekarang akan berkembang dimasa datang”. Karnanya tugas ilmu sosial adalah menemukan hukum yang menentukan urutan perkembangan itu. Hukum itu kemudian akan menyediakan garis rasional bagi memudahkan kemajuan manusia.
Faktor yang dapat membantu menemukan hukum perkembangan masyarakat itu adalah keumuman sifatnya. Artinya, hukum perkembangan itu dapat diterapkan pada semua masyarakat, sehingga orang dapat mempelajari kebanyakan masyarakat maju dan urutan perkembangannya, yang dilalui masyarakat.
Menurut Comte, salah satu masyarakat termaju adalah masyarakatnya sendiri, masyarakat Perancis. Perkembangan masa lalu dan arah perkembangan masyarakat Perancis dimasa datang menurutnya merupakan model yang dapat diterapkan pada masyarakat lain manapun.
Dalam mencari hukum rentetan sejarah itu, Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya (sejalan dengan tiga tingkat perkembangan pemikiran manusia). Ia menyebutnya “hukum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan dengan tiga persayaratan teori yang berbeda.
Ketiganya adalah:
1.      Tingkat teologis / khayalan
2.      Tingkat metafisika / abstrak
3.      Tingkat ilmiah / positif

Comte membagi lagi tingkat teologis ini menjadi tiga tingkat :
1.      Kepercayaan terhadap jimat (fetishism) : taraf awal era teologis manusia. Manusia membayangkan benda diluar dirinya dihidupkan oleh kekuatan yang sama dengan yang menghidupkan dirinya. Perbedaannya hanya intensitasnya. Kepercayaan ini berhubungan dengan masyarakat, contohnya masyarakat ditandai oleh kekuasaan pendeta (sacerdotal), prilaku yang didasarkan pada kepura-puraan daripada didasarkan pada akal. Kehidupan keluarga muncul, sejalan dengan kemunculan kehidupan menetap yang membantu perkembangan keadaan selanjutnya.
2.      Kepercayaan terhadap dewa (politheism) : muncul kehidupan kota. Pemilikan tanah menjadi institusi sosial, muncul sistem kasta, dan berperang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan kehidupan politik yang langgeng dan progresif.
3.      Kepercayaan terhadap Tuhan (monotheism) : mulai terjadi modifikasi sifat teologi dan sifat kemiliteran teologis. Gereja khatolik gagal memberikan baris yang langgeng bagi kehidupan sosial. Mulai terjadi emansipasi wanita dan tenaga kerja. Gereja dan negara dipisahkan oleh tuntutan universal pembedaan sifat gereja dan sifat lokal kekuasaan politik. Perang bergeser dari tindakan agresif menjadi tindakan mempertahankan diri.

Tingkat metafisika adalah modifikasi dari tingkat pertama, tingkat teologis, yang mengasumsikan fikiran sebagai ciptaan kekuatan abstrak. Dalam tata masyarakat teologis dan kekuatan militer mencapai titik kehancuran dalam menyiapkan masyarakat baru dan permanen.
Di tingkat positif, fikiran manusia tidak lagi mencari ide-ide absolut, yang asli dan yang mentakdirkan alam semesta, dan yang menjadi penyebab fenomena, tetapi mencari hukum-hukum yang menentukan fenomena.
Di tingkat positif, agama dan kemanusiaan akan muncul. Sosiologi mengajarkan manusia berpikir positif dan akan menghubungkan cinta, keteraturan dan kemajuan dalam kehidupan.
Kesimpulannya, Comte memandang perubahan menurut kemajuan, termasuk segi fisik, etika, pikiran, dan politik. Kemajuan berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Comte, kekacauan masyarakat di zamannya berakar dalam kemunculan serentakn tiga filsafat yang saling bertentangan yakni teologis, metafisika dan positif.
Kemajuan terjadi melalui penggunaan nalar dalam tingkat positif dari sejarah:
“ Hanya bila perilaku manusia dan masyarakat semakin lama semakin ditandai oleh pengaruh nalar maka kemajuan bertahap akan tercapai”
Terdapat juga ungkapan “ Sejak kelahiran filsafat, sejarah masyarakat diakui telah ditentukan oleh sejarah perkembangan nalar manusia”.
Menurut Comte, ada tiga faktor yang mempengaruhi tingkat kemajuan manusia. Pertama, rasa bosan. Seperti teoritis modern, sekali kecakapan yang lebih rendah telah digunakan, manusia akan terdorong untuk menggunakan kecakapannya yang lebih tinggi.
Faktor kedua, lamanya umur manusia. Jika umur manusia meningkat, kekuatan konservatifisme akan semakin berpengaruh, menghambat laju perubahan. Sebaliknya, umur pendek sama merepotkannya dengan umur terlalu panjang, memberikan terlalu banyak kekuatan pada naluri pencipta.
Faktor ketiga, faktor demografi pertambahan penduduk secara alami. Semakin tinggi tingkat konsentrasi penduduk di suatu tempat, akan menimbulkan keinginan dan masalah baru.
Comte berpendapat sumbangan terpenting bagi studi perubahan sosial adalah pengakuannya bahwa perubahan sosial itu normal, masalah bagi penelitian sosiologi adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi laju perubahan.
Robert Lyn bertanya: untuk apa pengetahuan sosiologi itu? Jawaban Comte adalah pengetahuan sosiologi harus digunakan untuk melanjutkan kemajuan masyarakat, dan sosiolog harus menjadi wahana yang mampu memanfaatkan pengetahuan itu seefektif mungkin.
Kelemahan dari pendapat-pendapat  Comte adalah ia terlalu membatasi diri dalam mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat perubahan. Ia menganggap semua manusia akan menjadi masyarakat Eropa Barat, masyarakat industri seperti yang ia ketahui. Ia meremehkan kekauatan manusia unutk membentuk masa depannya sendiri.


HERBERT SPENCER
Spencer (1820 – 1903) menulis karya fisafatnya dengan tujuan untuk menyatukan keseluruhan pengetahuan manusia sekitar prinsip evolusi (Spencer bukan Darwin yang menciptakan ide “survival of the fittest” dan ia lebih menerangkan pada manusia ketimbang pada dunia binatang). Ia menegaskan bahwa evolusi adalah suatu proses diferensiasi dan integrasi secara berurutan.
Spencer menyusun teori perubahan sosial bahwa masyarakat adalah sebuah organisme – sesuatu yang hidup. Masyarakat mengalami pertumbuhan terus-menerus. Karena tumbuh bagian-bagiannya menjadi tidak sama. Masyarakat menunjukan peningkatan struktur.
Peningkatan kerumpilan struktur atau deferensiasi berarti peningkatan deferensiasi fungsi-fungsi. Bagian-bagian yang tak serupa, mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Seperti contoh di dalam masyarakat terdapat bagian yakni pemerintah, keluarga, ekonomi dan faktor lain. Faktor-faktor tersebut terpisah, namun saling tergantung dan harus berfungsi bersama-sama untuk kehidupan keseluruhan.
Dalam membahas sistem institusi sebagai sistem, Spenser tidak memandangnya secara statis sebagai struktur yang stabil dari organismenya. Ia melukiskannya dari evolusinya sendiri, dan melihat perkembangn selanjutnya sebagai mekanisme mempertahankan hidup. Kita dapat melacak evolusi suatu sistem industri atau sistem produksi suatu masyarakat.
Evolusi adalah prinsip dasar dari manusia dan masyarakat adalah organisme, maka kita dapat memahami perkembangan masyarakat menurut pertumbuhan manusia. Dalam kenyataannya ada sejumlah kesamaan antara pertumbuhan individu dan organisme sosial. Proses yang terjadi dikedua kasus itu adalah proses diferensiasi dan integrasi terus-menerus. Perbanyakan unit-unit, perluasan kelompok-kelompok, dan penyatuan kelompok-kelompok, selanjutnya meningkatkan integrasi kelompok “ penggabungan dan penggabungan ulang “.
Pertumbuhan masyarakat tidak hanya menyebabkan perbanyakan dan penyatuan kelompok, tetapi juga meningkatkan kepadatan penduduk atau meningkatkan solidaritas. Integrasi yang mengikuti diferensiasi tidak hanya berarti memperbanyak massa, tetapi juga memajukan massa itu menuju hubungan antar bagian yang lebih akrab. Prinsip evolusi yang ditemukan Spencer di dalam alam semesta suatu keseluruhan homogenitas yang tak menentu dan membingungkan yang memberikan jalan bagi heterogenitas tertentu dan berlaku bagi masyarakat manusia.
Spencer melukiskan perubahan manusia dari homogen ke heterogen dengan membandingkan masyarakt primitif dan masyarakat modern. Ia mengatakan, suku-suku primitif serupa dalam seluruh bagian-bagiannya, sedangkan masyarakat peradaban semua struktur dan fungsinya tidak sama. Selanjutnya sejalan dengan peningkatan heterogenitas, meningkat pula hubungannya. Kelompok modern tidak dipersatukan oleh ikatan (pernyataan ibnu khaldun disangkal habi-habisan). Suku nomaden mempunyai ikatan karena dipersatukan oleh ketundukan kepada pemimpin suku. Ikatan ini meningkat sehingga kita mencapai masyarakat yang beradab yang cukup diintegrasikan bersama “ selama 100 tahun atau lebih “.
Peningkatan kapasitas menandai proses pertumbuhan masyarakat. Organisasi sosial yang semula masih samar-samar melalui pertumbuhan, organisasi sosial menjadi semakin mantab, adat menjadi hukum, hukum menjadi semakin khusus dan institusi sosial semakin terpisah-pisah dan berbeda. Yang menggerakan mekanisme pertumbuhan adalah berjuang empertahankan hidup antara berbagai masyarakat. Keseluruhan proses penggabungan dan penggabungan ulang . perubahan dari homogenitas ke heterogenitas mustahil terjadi tanpa konflik anta suku-suku dan bangsa-bangsa. Karena kelompok yang bersangkutan dan kelompok yang menyerang sama-sama memerlukan kerja sama diantara anggotanya. Ini selanjutnya akan menuju kepada segala jenis kerjasama yang telah membantu pertumbuhan peradaban. Dengan mengakui kengerian yang dihasilkan dari konflik itu, Spancer berpendapat bahwa terlepas dari konflik itu dunia ini tentu masih tetap dihuni oleh manusia yang lemah yang tinggal di gua-gua hidup dengan mengumpulkan makanan dari hutan dan sungai.
Sebaliknya, begitu masyarakat beradab keluar dari pertumpahan darah antar masyarakat yang suka peperangan, maka konflik antar masyarakat tidak diperlukan lagi. Karena, peperangan takkan muncul lagi. Ini membawa kita kepada tipe dua masyarakat yang menandai pola umum evolusi manusia. Umumnya masyarakat dapat klasifikasikan antara masyarakat militer dan masyarakat industri.
Masyarakat militer diorganisasikan berdasarkan kerjasama, sedangkan masyarakat industri berdasarkan kerjasama sukarela. Masyarakat militer mempunyai kekuasaan yang sentral yang lalim yang melaksanakan kekuasaan mutlak terhadap prilaku individu. Masyarakat industri mempunyai tipe pemerintahan demokrasi atau pemerintahan perwakilan yang terbatas kontrol politiknya terhadap prilaku individu.
Ada hubungan penting antar struktur masyarakat dan kpribadian anggotanya. Dalam masyarakta militer keberhasilan dalam peperangan merupakan sumber kehormatan tertinggi dan merupakan kebaikan sama dengan keberanian dan kekuatan. Rakyat dalam masyarakat militer bersifat patriotik berlebih-lebihan. Kemenangan dianggap sebagai tujuan tindakan yang tertinggi kepatuhan trrhadap kekuasaan mereka dianggap penting dan tak terelakan.
Ciri mendasar masyarakat industri bertolak belakang denga ciri militer. Mereka mengutamakan kehidupan yang damai dan langgeng. Masyarakt ditata untuk malaksanakan produksi bukan untuk peperangn, anggotanya selaku individu lebih menjadi pusat perhatian ketimbang masyarakat selaku keseluruhan. Interaksi dalam masyarakat ini lebih didasarkan atas kontrak ketimbang kekuasaan absolut ketimbang hubungan masyarakat yang dominan dalam masyarakat militer. 
Jenis masyarakat industri adalah kebebasannya semakin berkembang, kesetiaan kurang, kepercayaan terhadap pemimpin kecil, patriotismenya lebih memenuhi syarat, dan penghormatannya terhadap individualisasi orang lain semakin besar. Spancer mempunyai pandangan terhadap suatu masyarakat dimana kontrol pemerintah minimal dari setiap orang mengejar kebahagiaan mereka sendiri secara bebas. Sama dengan Adam Smith. Spancer yakin bahwa tujuan akhir masyarakat bebas meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 
Tidak ada jalan pintas menuju autopia, peranan sosiologi adalah untuk mengetahui proses dan membentu manusia menerima dan menunggu dengan tenang kemunculan abad baru. Manusia tentu akan melihat betapa sedikitnya yang dapat mereka lakukan, dan segera akan menyaksikan manfaatnya jika melakukan yang sedikit itu yakni menyatukan energi kecintaan terhadap manusia dengan ketenangannya berfilsafat.
Spancer mengakui masyarakat dapat mengalami kemunduran maupun kemajuan. Pendiriannya didasarkan atas hubungan antar struktur suatu masyarakat dan watak serta prilaku anggotanya. Menurut comte, struktur sosial diciptakan manusia sebagai konsekuensi dari cara berfikirnya. Menurut Spancer, hubungan ini dapat berubah dan struktur masyarakatnyalah yang menuntut cara berfikir dan tipe kpribadian tertentu.


EMILE DURKHEIM
Contoh terkhir mengenai teoritis yang mengembangkan tipe teori evolusi adalah Durkheim (1855-1917). Nisbet menyumbangkan empat perkara penting dalam teori Durkheim:
1.      Perkara asal-usul
2.      Sumbangan nisbet kedua, terlihat dalam uraian Durkheim tentang tingkat-tingkat perkembangan sosial. Durkheim menunjukkan minat  yang sama dengan minat pemikir sw-zaman dengannya dalam meneliti tingkat-tingkat perkembangan evolusi sosial, tetapi tidak menjadikannya pusat perhatian di dalam karyanya. Ia juga menolak realitas perkembangan terus menerus dalam sejarah berjenis-jenis masyarakat. Dalam hal ini ia adalah kekecualian diantara para pemikir di zamannya.
Setiap pelajar sosiologi, sebenarnya menghubungkan nama Durkheim dengan dua tipe solidaritas, yakni solidaritas mekanik dan organik.
Solidaritas mekanik adalah bentuk awal, bentuk primitif dari organisasi sosial dan masih dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat primitif yang ada kini.
Solidaritas organik berasal dari pembagian kerja yang menyertai perkembangan sosial.
Di dalam solidaritas mekanik terdapat kecenderungan dan ide bersama yang lebih banyaj (dibandingkan dengan operbedaan individual) serta tata sosial mempunyai keseragaman yang besar. Solidaritas mekanik ini dipertahankan dengan menerapkan sanksi-sanksi memaksa terhadap orang  yang menyimpang. Sanksi memaksa ini adalah cerminan kemarahan sosial terhadap orang yang melanggar.
Sebaliknya, solidaritas organik lebih berakar di dalam perbedaan daripada kesamaan (ada kesamaannya dengan hukum homogenitas-heterogenitas evolusi sosial Spencer)
Durkheim menyimpulkan perbedaan antara solidaritas mekanik dan organik, yaitu :
·         Solidaritas mekanik mengikat individu secara langsung dengan masyarakat tanpa suatu perantara, sedangkan solidaritas organik menyebabkan saling ketergantungan antarvidu.
·         Solidaritas mekanik ditemukan dalam masyarakat yang ditandai oleh keyakinan dan sentimen bersama, sedangkan solidaritas organik menandai masyarakat yang berdiferensiasi.
·         Solidaritas mekanik hanya dapat dibedakan  dari hak-hak kepribadian masyarakat sebagai keseluruhan, sementara solidritas organik membutuhkan hak-hak perseorangan dan kepribadin yang unik.

3.      Sumbangan Nisbet ketiga dalam teori perubahan sosial Durkheim adalah mengenai faktor penyebab perubahan sosial. Durkheim mengemukakan bahwa pembagian kerja berbeda-beda berdasarkan volume dan kepadatan masyarakat. Volume dan identitas masyarakat tidak hanya membantu pembagian pekerjaan tetapi justru menyebabkannya.  Karena jumlah penduduk dan tingkat integrasi meningkat, maka akan terjadi peningkatan nyata dalam pembagian kerja, pembagian kerja ini selanjutnya lebih mendorong ke arah solidaritas organik daripada solidaritas mekanik.

Durkheim membahas arah perubahan sosial. Meskipun ia memusatkan perhatian mengenai kemajuan umat manusia namun kesimpulannya sendiri terasa sama dengan pemikiran segelintir orang yang was-was jika tidak putus asa tentang masa depan manusia. Ia menunjuk pada tingkat bunuh diri sebagai salah satu krisis peradaban modern. Selanjutnya, ia pun menyatakan bahwa baik hbubungan kekeluargaan ataupun hubungan keagamaan, tidak dapat menjadi kekuatan pemersatu dalam kehidupan modern sat ini.
Evolusi sosial akan meningkatkan dominasi solidaritas solidaritas organik atas solidaritas mekanik. Sudah menjadi hukum sejharah yang mula-mula solidaritas mekanik yang berdiri sendiri, secara progresif kehilangan landasannya dan sedikit demi sedikit solidaritas organik akan semakin lebih menonjol.
Ringkasnya, seperti Khaldun, Durkheim menekankan pentingnya solidaritas. Keduanya menganggap solidaritas penting bagi kelangsungan hidup masyarakat.

PERKEMBANGAN DIALEKTIKA
Seperti ditunjukkan Spencer, konflik dapat digolongkan ke dalam perkembangan evolusi. Mwnurut pandangan teoritisi perkembangan evolusi, konflik bukan merupakan proses sosial yang utama. Tetapi menurut penganut teori perkembangan yang lain, konflik adalah fakta sentral perubahan sosial.
Marx dan Engels lahir di Prusia. Marx adalah anak seorang ahli hukum Yahudi, sedangkan Engels adalah anak seorang Yahudi, pengusaha pabrik yang kaya.
Dua diantara sandaran pemikiran Marxis adalah dialektika dan materialisme. Dialektika menekankan bahwa kontradiksi adalah inti segala sesuatru, baik di dalam alam maupun di dalam kehidupan manusia sendiri, makna dialektika akan bertambah jelas bila kita meneliti hukum-hukum dasar tertentu yang diambil dari Hegel yang dibahas lebih rinci oleh Engels dalam karyanya Anti-Duhring. Segala sesuatu yang ada ditandai oleh kesatuan dan konflik dengan lawannya.
Engels selanjutnya menyatakan dialektika adalah ilmu mengenai hukum-hukum umum dari gerakan, perkembangan alam, masyarakat manusia dan pemikiran. Tiga hukum umum dialektika adalah kesatuan dari konflik pihak-pihak yang berlawanan, perubahan kuantitas menjadi perubahan kualitas, dan peniadaan dari peniadaan.
Hukum poeniadaan dari peniadaan dapat dicontohkan secara sederhana melalui aljabar. Kuantitas a dapat ditiadakan dengan membuatnya menjadi minus a. Jika minus a dikalikan dengan minus a, maka hasilnya a kuadrat.. inilah yang dimaksud dengan hukum peniadaan dari peniadaan. Pada kehidupan sosial, hukum itu dicontohkan dengan perkembangan berbagaio cara produksi struktur ekonomi. Tata perekonomian kapitalis adalaha peniadaan dari tata perekonomian feodal dan tata perekonomian sosialis meniadakan tata perkekonomian kapitalis-inilah hukum peniadaan dari penioadaan.
Marx sendiri sebenarnya tidak pernah menggunakan istilah “meterialisme historis” (ciptaan Engles) dan “metrialisme dialektika” (ciptaan Plekhanv). Marx berbicara tentang basis materialis dari metodenya, dan Materialisme adalah fondasi kedua diatas mana pemikiran marxis dibangun.
Bertolak dari premis-premis dialektika dan landasan materiil kehidupan manusia, Marx dan Engels membuat interpretasi historis yang dapat dirangkum sebagai berikut :
1.      Manusia masuk kedalam antar hubungan yang melepaskan kemauan mereka. Dalam setiap Zaman, kita harus mencari penyebab perubahan didalam cara-cara produksi masyarakat ketimbang didalam ide-ide. Dengan kata lain penyebab perubahan harus dicari didalam aspek ekonomi ketimbang di dalam filsafat. Pengalaman historis hanya akan diperoleh melalui analisis stuktural. Upama untuk memperoleh pemahaman dengan mempelajari pemikiran-pemikiran manusia selalu akan menghasilkan kegagalan. Bukan cara manusia berfikir, juga bukan apa yang dipikirkan manusia yang membentuk sejarah namun cara mereka berhubungan didalam proses produksi dan cara hubungan  mereka dengan produksilah yang membentuk sejarah
2.      Setiap masyarakat ditandai oleh infra struktur, yakni struktur ekonomi  dan supra struktur yang terdiri dari ideologi, hukum, pemerintahan, keluarga, dan agama.  supra struktur muncul dari infra struktur. Artinya basis materiil (ekonomi) masyarakat adalah landasan tempat membangun semua basis kehidupan lainnya, dengan demikian perubahan cara produksi menyebabkan perubahan didalam seluruh hubungan sosial. Selanjutnya, manusia menciptakan “prinsip-prinsip, ide-ide, kategori,kategori, selaras dengan hubungan sosial mereka. Tetapi ini tidak semerta-merta berarti oenegasan determinisme hubungan”.
3.      Perubahan terjadi sebagai akibat kontradiksi antara kekuatan dan hubungan produksi. Dalam perkembangan kekuatan produktif, akan dicapai suatu tahap dimana kekuatan produktif akan menjadi kekuatan yang produktif.
4.      Kontradiksi adalah inti kemajuan sosial. Artinya, kontradiksi bukan disebabkan oleh kekuatan dari luar atau faktor yang menimpa masyarakat, kontradiksi adalah bagian intergral perkembangan sosial. Masyarakat kapitalis menciptakan kondisi materil yang hakekatnya akan menghancurkan masyarakat. Perkembangan dialektika berarti bahwa kontradiksi muncul dari nti proses sosial. Menurut Marx dan Engles, untuk pemunculan kontradiksi ini tidak diperlukan tantangan atau proletariat dari luar, masyarakat perbudakan, pleodal, dan kapitalis mengandung benih penghancuran dirinya sendiri didalammnya
5.      Kontradiksi antara kekuatan dan hubungan produksi, terjelma didalam pertentangan kelas. “ sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang adalah sejarah perjuangan kelas”. Ini terjadi karena selama perkembangan kekuatan produktif, terdapat sebuah kelas yang harus “memikul semua beban masyarakat tanpa menikmati keuntungannya, yang terusir dari masyarakat yang terpaksa mengambil keputusan sangat berlawanan dengan seluruh kelas yang lain”.
6.      Hasil kontadiksi adalah revolusi. Kontradiksi antara kekuatan dan hubungan produksi, perjuangan antar kelas, diselesaikan dengan revolusi. Revolusi dimasa lalu masih belum memadai karena cara bertindaknya selalu tak berubah sedikitpun dan yang diungkit selalu persoalan ketimpangan distribusi. Sebaliknya revolusi komunis diarahkan untuk menentang cara bertindak sebelumnya, revolusi ini akan melenyapkan buruh (selaku sebuah kelas), melenyapkan kelas dan penguasa kelas.bersamaan dengan itu adalah penghapusan negara, karena negara merupakan alat pengendali dari kelas yang berkuasa.
7.      revolusi komunis akan menghasilkan masyarakat tanpa kelas seperti (di no 6). Masyarakat masa datang adalah masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara. Tanpa memperdebatkan mengenai peluang kemunculan masyarakat tanpa kelas itu, kita akan meneliti secara rinci makna masyarakat tanpa negara. Apakah kehancuran negara benang realistis dalam masyarakat industri maju? Jika istilah “ negara” mengacu kepada aparat pembuat keputusan sentral, maka ketidakmunculan negara dalam masyarakat industri mampaknya tidak terbayangkan (meskipun pemikir anarkis akan sangat tidak sependapat). Kita teah mencatat bahwa marx mengidentifikasi negara sebagai alat penindas oleh kelas berkuasa. Karena itu, argumen mengenai ketidakmunculan negara itu tentulah berarti ketidakmunculan ciri kelas dalam negara.

Begitulah, dari Marx dan Engles kita peroleh gambaran proses sosial sebagai proses dialektika-kontradiksi menjadi sifat bawaan proses sosial dan akan menjadi mekanisme pendorong perubahan. Seluruh sejarah manusia dapat diidentifikasi menurut tingkat yang menunjukan perbedaan cara produksi masyarakat. Cara produksi sosial itu selanjutnya ditandai oleh sejenis antar hubungan khas antar manusia.
Salah satu sumbangan Marxisme, yang membuat orang banyak tertarik, baik di dunia berkembang maupun di dunia maju, adalah pandangan tentang masa depan bersifat manusiawi yang ditawarkannya, dan penekannya pada peranan manusia dalam menciptakan masa depan. Manusialah yang membuat sejarah. Berlawanan dengan Spencer yang mempersempit peranan manusia sekedar berperilaku sedemikian, sehingga tidak menghalangi proses evolusi yang berjalan lambat,dan berlawanan dengan Comte yang membatasi usaha penting pembentukkan masa depan pada sebuah elit terpelajar, Marxisme menempatkan sejarah di tangan massa. Marx menyatakan, pandangan filsafat bukan semata untuk memahami sejarah, tetapi untuk mengubahnya. Ia memberi dunia sebuah filsafat yang bertujuan untuk mengubah sejarah secara tepat. Pandanagan masa depannya penuh optimis, manusiawi dan aktif. Teori perubahan sosial Marxis bukan sekedar pertualangan pikiran; teorinya  merupakan sebuah petunjuk untuk bertindak, sebagai alat yang dapat digunakan manusia untuk meraih kendali proses historis untuk memperoleh kebebasan mereka.
Jika manusia akan memperoleh kebebasan, mereka harus mempersatukan melalui kesadaran terhadap realitas di tempat mereka terlibat. Proletariat harus mengadakan perubahan dari sebuah kelas “di dalam dirinya sendiri” menjadi sebuah kelas “untuk dirinya sendiri”. Petani misalnya, dalam pengertian sebenarnya, oleh Marx tidak dianggap sebagai kelas. Karena petani kurang mempunyai kesadaran kelas, dan karena itu mereka  tak dapat diharapkan akan mempengaruhi perubahan. Dalam hal itu kita mendapat gema solidaritas yang dikatakan Ibnu Khaldun penting bagi setiap kelompok untuk meraih kemenangan.

Sumbangan penting pikiran Marxis lainnya adalah tindakannya menghindari pembuatan dikotomi yang kaku antara ; determinisme dan indeterminisme. Seperti dikatakan diatas; infrastruktur ekonomi pada hakikatnya adalah menentukan.Begitu pula, di setiap stuktur ekonomi tertentu terdapat ruang gerak untuk bervariasi dan untuk saling mempengaruhi suprastruktur. Dalam kedua perkara ini Marx dan Engels menunjukkan diri mereka sebagai orang yang berfikir pragmatis dan ingin memperhatikan sebagaai rangkaian tindakan, apakah cocok dengan pernyataan teoritis sebelumnya. Mereka tidak menganggap sejarah tidak beraturan namaun tidak pula dianggap sedemikian mutlak menentukan, sebagaimana tindakan manusiapun  diakui  tidak menentukan secara mutlak.
Terakhir, Marxisme menekankan pentingnya pemahaman struktur sosial dalam memahami perilaku manusia. Bukanlah kesadaran yang membentuk realitas, melainkan realitaslah yang menentukan kesadaran. Apa yang dilakukan manusia, bagaimana ia berpikir, dan apa yang ia yakini, mencerminkan struktur sosial tempat ia berada. Sejauh kita melupakana pentingnya pengaruh struktur sosial, kita akan mudah menerima mitos pemikiran utopia, dan kita mungkin akan mempersalahkan manusia (misalnya golongan miskin) karena mempengaruhi struktur.


Referensi :
Robert H. Lauer . Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta : PT Rineka Cipta
Share this article :

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda di bawah ini. No Spam ! No Sara !

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2015. Monalia Sakwati . All Rights Reserved.
Created by Monalia Sakwati