News Update :
Home » » Kemiskinan yang Lentur

Kemiskinan yang Lentur

Penulis : Monalia Sakwati on Friday, March 28, 2014 | 12:31 AM



Kemiskinan dalam pendekatan sosial budaya pada masa kini terbagi atas tiga kategori yakni cultural, struktural, dan prosesual. Dapat dikatakan bahwa semua kajian mengenai kemiskinan dalam perspektif sosial budaya dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari kategori itu.
Dalam perspektif kritik yang berkembang khususnya pada masa pemikiran postmodernisme kini, variasi-variasi sosial budaya berbagai masyarakat tidak lagi dipandang sebelah mata, karena dibalik variasi-variasi tersebut tersimpan substansi yang bersumber dari kekuatan internal masyarakat yang bersangkutan, yang selama ini nampaknya diabaikan.
Dalam pemikiran induktif, dimensi empiris menjadi kunci karena suatu kajian dan analisa berangkat dari gejala, kelakuan, atau peristiwa yang berada dalam ranah empiris. Maka, kemiskinan diketahui, ditanggapi, dan dipahami sebagai realita empiris.
Definisi kemiskinan bergeser dari definisi obyektif menjadi definisi subyektif. Definisi obyektif kerapkali disebut juga sebagai definisi materialistik atau ekonomistik. Dalam definisi ini, seseorang atau sejumlah orang dikategorikan miskin atas dasar kondisi kekurangan materi. Dalam pengertian obyektif ini manusia dipandang sebagai manusia ekonomi yang rasional, selalu berhitung untung rugi, dan dapat digolong-golongkan tinggi dan rendah sesuai dengan besar penghasilan yang diperoleh per orang atau per keluarga. Definisi obyektif ini berimplikasi terhadap lestarinya konsep pelapisan sosial yang berbasis materi atau ekonomi yang menentukan pada lapisan sosial mana seseorang berada.


Paradoks Indonesia
Definisi kemiskinan bergeser ke subyektivitas. Artinya miskin atau tidak miskin didefiniskan oleh orang-orang (subyek) penelitiannya. Akibatnya, batas-batas antara miskin dan tidak miskin menjadi baur.
Sangat penting mengartikulasikan dimensi agama dalam membicarakan kemiskinan. Agama (khususnya agama-agama besar) mengajarkan kehidupan sederhana, tidak berlimpah ruah, dan tidak bermewah-mewah.
Kalau kita menghubungkan antara definisi obyektif dan subyektif dalam konteks Indonesia, kita akan menemukan sebagai berikut : 1) Status sosial dan status ekonomi di Indonesia tidak secara konsisten berhubungan, 2) Status sosial yang rendah tidak dengan sendirinya miskin.
Sebagai implikasi dari gejala paradok tersebut adalah : Pertama, terartikulasinya orang-orang dari berbagai status sosial dan ekonomi secara lintas lapisan. Hal tersebut disebut sebagai integrasi golongan miskin. Kedua, model atau teori obyektif dalam memandang kemiskinan pada dasarnya adalah pendekatan barat yang dalam kenyataan tidak selalu berlaku dalam realita Indonesia.
Share this article :

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda di bawah ini. No Spam ! No Sara !

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2015. Monalia Sakwati . All Rights Reserved.
Created by Monalia Sakwati