Thursday, April 11, 2013

Peranan Gender dan Pembagian Kerja dalam Rumah Tangga

Sering dijumpai kasus mengenai pembagian kerja dalam rumahtangga apabila istri hanya sebagai ibu rumahtangga adalah istri hanya dapat berperan di sektor reproduktif dan suami berperan penuh dalam sektor produktif. Pembagian kerja tersebut merupakan suatu hal yang lazim terjadi pada mayoritas keluarga di Indonesia. Peran tersebut dapat berubah apabila suami bukan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Hal ini berimplikasi kepada berubahnya peran istri yang sebelumnya hanya berperan di sektor domestik berganti atau mungkin menambah ke peran produktif atau sektor publik.

Berubahnya peranan perempuan tersebut mengakibatkan bertambahnya tanggung jawab yaitu sebagai pencari nafkah sekaligus ibu rumahtangga. Berdasarkan hal tersebut, akhirnya dikenal istilah peran ganda perempuan. Peran ganda perempuan tidak semata-mata mengubah pandangan masyarakat terhadap perempuan menjadi lebih baik, kenyataan yang ada adalah perempuan yang bekerja di sektor publik sebagian besar berada di bawah laki-laki. Pada sisi lain, perempuan yang bekerja di sektor publik ternyata masih menyisakan tanggung jawab lain yaitu keluarganya. Perempuan ternyata masih harus menyelesaikan pekerjaan domestik tanpa bantuan dan campur tangan laki-laki.

Gambaran mengenai tanggung jawab seorang istri atau perempuan dalam keluarga dapat dilihat melalui perannya sebagai istri dalam rumahtangga. Peran menggambarkan orang yang dapat mengatur perilakunya sesuai dengan perilaku orang-orang disekitarnya (Meliala, 2006). Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku, norma tersebut berasal dari kesepakatan berdasarkan hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat.

Moser (1993) dalam Mugniesyah (2007) mengungkapkan peranan gender adalah peranan yang dilakukan perempuan dan laki-laki sesuai status, lingkungan, budaya dan struktur masyarakatnya. Peranan gender mencakup :

1. Peranan produktif adalah peranan yang dikerjakan perempuan dan laki-laki untuk memperoleh bayaran atau upah secara tunai atau sejenisnya.

2. Peranan reproduktif adalah peranan yang berhubungan dengan tanggung jawab pengasuhan anak dan tugas-tugas domestik yang dibutuhkan untuk menjamin pemeliharaan dan reproduksi tenaga kerja yang menyangkut kelangsungan keluarga.

3. Peranan pengelolaan masyarakat atau politik, dibagi menjadi :

a. Peranan pengelolaan masyarakat atau kegiatan sosial adalah semua aktivitas yang dilakukan pada tingkat komunitas sebagai kepanjangan peranan reproduktif (bersifat sukarela dan tanpa upah).

b. Pengelolaan masyarakat politik atau kegiatan politik adalah peranan yang dilakukan pada tingkat pengorganisasian komunitas pada tingkat formal secara politik (biasanya dibayar dan dapat meningkatkan status).

Mugiesyah dalam Meliala (2006) menjelaskan peranan gender dipengaruhi oleh umur, kelas, ras, etnik, agama, lingkungan geografi, ekonomi, dan politik. Perubahan gender sering terjadi sebagai respon atas perubahan ekonomi, sumberdaya alam, dan atau politik termasuk perubahan berupa usaha-usaha pembangunan atau penyesuaian program struktural atau oleh kekuatan-kekuatan di tingkat nasional dan global. Soekanto dalam Meliala (2006) menjelaskan bahwa peranan merupakan hasil atau bentuk dari status yang dapat diukur dengan menghitung curahan waktu yang digunakan untuk setiap kegiatan yang dilakukan oleh individu rumahtangga pada sektor produktif, reproduktif dan kemasyarakatan.

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, manusia selalu membutuhkan orang lain dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Berada dalam masyarakat, membuat individu memiliki peran dan status. Peran perempuan yang bekerja sangat berhubungan dengan bagaimana menjaga keseimbangan antara tugas produktif, reproduktif dan kemasyarakatan. Pentingnya melihat peranan adalah karena peran mengatur perilaku seseorang (Meliala, 2006). Peranan membuat seseorang dapat meramalkan perbuatan orang lain pada batas tertentu. Individu yang memiliki suatu peran akan dapat menyesuaikan diri dengan individu lain dengan peran yang sama. Berdasarkan peranan-peranan individu dalam masyarakat inilah terjalin hubungan sosial.

Beban Ganda (Double Burden)


Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya.Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.

Segala bentuk ketidakadilan gender tersebut di atas termanifestasikan dalam banyak tingkatan yaitu di tingkat negara, tempat kerja, organisasi, adat istiadat masyarakat dan rumah tangga.
Tidak ada prioritas atau anggapan bahwa bentuk ketidakadilan satu lebih utama atau berbahaya dari bentuk yang lain. Bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut saling berhubungan, misalnya seorang perempuan yang dianggap emosional dan dianggap cocok untuk menempati suatu bentuk pekerjaan tertentu, maka juga bisa melahirkan subordinasi.

Perbedaan gender akan melahirkan ketidakadilan yang saling berhubungan dengan perbedaan tersebut berikut tabelnya analisanya:

Keyakinan Gender
Bentuk Ketidakadilan Gender
Perempuan: lembut dan bersifat emosional
Tidak boleh menjadi manajer atau pemimpin sebuah institusi
Perempuan: pekerjaan utamanya di rumah dan kalau bekerja hanya membantu suami (tambahan)
Dibayar lebih rendah dan tidak perlu kedudukan yang tinggi/penting
Lelaki: berwatak tegas dan rasional
Cocok menjadi pemimpin dan tidak pantas kerja dirumah dan memasak

Gender dan beban kerja lebih berat Dengan berkembangnya wawasan kemitrasejajaran berdasarkan pendekatan gender dalam berbagai aspek kehidupan, maka peran perempuan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Anggapan bahwa perempuan bersifat memelihara, rajin dan tidak akan menjadi kepala rumah tangga, membuat seluruh pekerjaan domestik menjadi beban perempuan. Oleh karena itu perempuan menerima beban ganda, jika iapun harus membantu mencari nafkah. Sebagian perempuan juga mempunyai beban kerja berlebihan, yaitu tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. Misalnya, seorang perempuan selain melayani suami, hamil, melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah, dan mengurus anak-anak. Disamping itu, kadang ia juga ikut mencari nafkah.

Analisa Data


ANALISIS DATA   
Setelah selesai melakukan pengolahan data, maka langkah selanjutnya adalah data dianalis. Data mentah (raw data) yang sudah susah payah kita kumpulkan tidak akan ada artinya jika tidak dianalisis. Analisis data merupakan kegiatan yang sangat penting dalam suatu penelitian, karena dengan analis data lah data dapat mempunyai arti/makna yang dapat berguna untuk memecahkan masalah penelitian. 


Pada umumnya analisis data bertujuan untuk:
  1. Memperoleh gambaran/deskripsi masing-masing variabel
  2. Membandingkan dan menguji teori atau konsep dengan informasi yang ditemukan
  3. Menemukan adanya konsep baru dari data yang dikumpulkan
  4. Mencari penjelasan apakah konsep baru yang diuji berlaku umum atau hanya berlaku pada kondisi tertentu.

Analisis data mempunyai posisi strategis dalam suatu penelitian. Namun perlu dimengerti bahwa dengan melakukan analisis tidak dengan sendirinya dapat langsung menginterpretasikan hasil analisis tersebut. Menginterpretasikan berarti kita menggunakan hasil analisis guna memperoleh arti/makna.
Interpretasi mempunyai dua bentuk, yaitu: arti sempit dan arti luas. Interpretasi dalam arti sempit (deskriptif) yaitu interpretasi data yang dilakukan hanya sebatas pada masalah penelitian yang diteliti berdasarkan data yang dikumpulkan dan diolah untuk keperluan penelitian tersebut. Sedang interpretasi dalam arti luas (analik) yaitu interpretasi guna mencari makna dan hasil penelitian dengan jalan tidak hanya menjelaskan/menganalisis data hasil penelitian tersebut, tetapi juga melakukan intervensi (generalisasi) dari data yang diperoleh denagn teori-teori yang relevan denagn hasil-hasil penelitian tersebut.
Langkah-langkah analisi yang digunakan untuk pendekatan kuantitatif antara lain sebagai berikut:
  1. Analisis Deskriptif (Univariat)
Tujuan dari analisis ini adalah untuk menjelaskan/mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Bentuknya tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai rata-rata (mean), median, standar deviasi dan  inter kuartil range, minimal dan maksimal. 
  1. Analisis Analitik
a.       Analisis Bivariat
Setelah diketahui karakteristik masing-masing variabel dapat diteruskan analisis yang lebih lanjut. Apabila analisis hubungan antara dua variabel, maka analisis dilanjutkan pada tingkat bivariat. Misalnya ingin diketahui hubungan antara berat badan denagn tekanan darah. Untuk mengetahui hubungan dua variabel tersebut biasanya digunakan pengujian statistik. Jenis uji statistik yang digunakan sangat tergantung pada jenis data/variabel yang dihubungkan.
b.      Analisis Multivariat
Merupakan analisis yang menghubungkan antara beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen.


Daftar bacaan:
Creswell, John. Research Design, Jakarta: KIK Press, 2002.
Gulo, W. Metodologi Penelitian, Jakarta: Grasindo, 2002
Priyono, Sutanto. Modul Analisis Data. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, 2001
Notoatmodjo, Soekidjo. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta, 2002.
Usman, Husini. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara, 2004

Thursday, March 28, 2013

A Framework For Multilevel Organizational



A FRAMEWORK FOR MULTILEVEL ORGANIZATIONAL ANALYSIS IN DEVELOPING COUNTRIES
Mehdi Farashahi
Rick Molz

There is an ongoing debate over the transference of managerial and organizational skills, techniques, values and culture from developed countries to developing countries. We argue there is a false underlying assumption among academics in developed countries that the theoretical template of managerial and organizational attributes in developing countries is similar to what one finds in developed countries. Two key analytical insights are offered First, we explicitly differentiate organizational, environmental and cultural characteristics of developed and developing countries. Second, we apply Scott's (1992) natural/ecological level of analysis to create a framework to better carry out organizational analysis in developing countries. 


INTRODUCTION

As business activities become more international and geographical borders between countries become less and less relevant, closer and more frequent interactions among organizations, firms, industries and institutions occur both within and between countries (Lindholm 2000; Morosini et al., 1998). Understanding how organizations adapt, resist or adjust to today's changing environment requires a close analysis of both internal and external factors. Viewing modern organizations and commercial enterprise as open systems, it is important to look both at their contexts, as well as their component units. Further, more than 70 percent of the world population lives in the developing countries, and it is in these countries where the majority of the world's natural resources and future market opportunities are located. Both practitioners and researchers have become more interested in understanding the social and business activities of these contexts. 

Relationships between environment and organizations have been explored from different theoretical perspectives, including neo-institutional theory (DiMaggio and Powell, 1983), and structuration theory (Barely and Tolbert, 1997). Institutionalists have explored how organizations take their forms and behave according to forces from different institutional sources, including (1) global (Thornton, 1995), (2) national (Carroll, 1988; Cheng et al., 1998; Dacin, 1997), (3) specific geographic areas (Deephouse, 1996), (4) organizational fields (Austin, 1998; Davis, 2000), and (5) intra-organizational (Homburg et al., 1999). Most of the existing theoretical and empirical studies on organizations and management activities have been developed using samples from industrialized countries, or organizations established in these developed countries. Researchers have questioned the applicability of western theories on organizations and their management activities in developing countries (e.g. Clark, 1998; Gopinath, 1998; James, 1997). In their review on administrative theories of developing countries, Kiggundu et al. (1983) question the applicability of western theories in these contexts, particularly given the radically different macro environment. North (1994) and Olson (1992) argue that the successful national business systems of industrialized countries may not be appropriate in other parts of the world. Sullivan and Weaver (2000) argue one cannot assume theories and practices conceived in one culture are readily translated and implemented in other cultures. Scholars also have realized the limitations of applicability and universality of management and organization theories across cultures (e.g. Hofstede, 1980). 

This implies the need for an appropriate theoretical framework for understanding organizations and their management activities in non-western countries. This paper provides an approach in developing these theoretical frameworks. It begins with the basic assumptions of western theories. A matrix is built on the Scott's (1992) rational-natural system model to cluster these assumptions. The applicability of some of the basic western perspectives in developing countries' contexts is examined by comparing the nature of these contexts with the assumptions of those theories. Using the three dimensions of this matrix a set of propositions are developed for the characteristics of the most appropriate perspectives for understanding organizations and their activities in developing countries. Key to this approach for developing countries context is the importance of ecological level of analysis, which focuses on the relationship between organizations or class of organizations and the non-controllable external environment. 

The methodology used in this paper is a deduction process based on comparing the main assumptions of theories with the characteristics of the phenomenon to develop appropriate propositions. There are three major steps in our approach. In the first step, the major characteristics of the main phenomenon and its context (i.e. organizations and developing countries) are identified based on the corresponding literatures. These are put together to provide a clear perspective of the phenomenon. In the second step, various theoretical frameworks are grouped in a four-cell matrix based on their main assumptions and level of analysis. Finally, the main assumptions and level of analysis of theoretical frameworks grouped in each cell of the matrix are compared with the characteristics of the phenomenon and its context identified in the first step. The outcomes of this comparison process are the suggested propositions. 

This paper is organized as follows: Some of the common characteristics of national environments of developing countries are described in the first section. The next section elaborates on the nature of organizations and using different perspectives, leading to a newly defined matrix. The following section examines the implications of the new matrix, and argues that much of the comparative analysis between developed and developing countries focuses on the rational/individual or rational/structural level of analysis, ignoring Scott's (1992) natural theory of organizations, particularly at the natural/ecological level of analysis. Suggested guidelines for future theoretical and empirical studies are developed in the last section. 

The premise of this paper is this: in developing countries, the macro-environmental forces, especially at the national level, have the dominant role in shaping the nature of organizations and their activities. The complexity of organizations' actions in developing countries and the emergent nature of their goals make the natural open system perspectives the most appropriate approach for analyzing them. We argue the individual and structural levels of analysis are too limited to understand organizations in developing countries. Using an ecological level of analysis in a natural open system perspective to study organizations in developing countries will provide better understandings and theoretical frameworks. 

Tuesday, January 15, 2013

Buat Hotspot Sendiri di Laptop

Apa saja yang dibutuhkan :
1. Laptop/netbook yang ada wifi'a , bisa juga PC yang ada wifi'a (Pake TP-Link)
2. Download softwarenya di Installer & Patch
DOWNLOAD CONNECTIFY
3. Sumber koneksi (bisa modem juga bisa wirelles)

Jika sudah download , silahkan diinstal sebagaimana mestinya , jika berhenti di tengah saat instal , pilih saja continue , hingga install finish dan kemudian restart .

maka tampilanya akan seperti ini :
http://static.allmyapps.com/data/apps/1/8/1876/4ddaa435c0a9782eddf4b0bbe03f0528_connectify_02_default.jpg

Penggunaan software ini sangat mudah, kita hanya perlu memberi nama pada hotspot yang akan kita buat, setting password apabila diperlukan, perangkat WiFi yang akan digunakan, modus keamanan dan memilih apakah akan mengaktifkan internet sharing atau tidak.
oke , tinggal klik "start hotspot"
dan anda bisa berwifi ria menggunakan smartphone anda :)

http://fc09.deviantart.net/fs70/i/2010/259/7/7/windows_7___connectify_concept_by_wheeqo-d2ytxwm.png