News Update :
Home » » Pengalaman ke Dokter THT

Pengalaman ke Dokter THT

Penulis : Monalia Sakwati on Wednesday, January 27, 2016 | 4:11 PM

Hi, readers. Hari ini aku mau sharing pengalaman yang aku alami. Mudah-mudahan bisa jadi sebagai sumber informasi buat teman-teman yang mungkin sedang merencanakan ke dokter THT.

Waktu itu telinga kanan saya mengalami penurunan pendengaran dikarenakan banyaknya gumpalan kotoran yang mengendap di dalam telinga saya. Sebenarnya sudah lama sih telinga saya ini bermasalah tapi nggak pernah saya hiraukan selama masih bisa dengar dikarenakan ditakutkan dengan macam-macam biaya yang besar. Waktu terus berlalu, telinga kanan saya mengalami penurunan pendengaran yang drastis, suara yang ada di hp nggak bisa terdengar lagi. Jadi saya kalau nelpon menggunakan telinga kiri. Sangat mengganggu dan bisa mengurangi kepercayaan diri kita readers. Bayangin dunia itu sepi tanpa warna warni suara, jadi bawaanya pengen tidur guys. Terkadang sakit hati, melihat orang yang ngetawain kita karena kita nggak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. So, otomatis kita jadi minder dalam beraktifitas di luar ruangan. Pada akhirnya saya memberanikan diri ke dokter THT.

Senin, 28 Desember 2015
Saya ditemani adik saya berkunjung ke rumah sakit swasta yang ada di Bandar Lampung. Masuk di bagian ke ruang berobat, lanjut ke bagian administrasi untuk daftar berobat dan membuat kartu berobat bagi yang belum pernah berobat ke RS tersebut. Jangan lupa mengambil nomor antrian kalau banyak orang yang mengantri. Setelah di bagian administrasi, jangan lupa tanyain dokter THTnya ada atau nggak. Kebetulan dokter THTnya belum ada, tapi katanya akan datang beberapa menit lagi. Dikasih pilihan tetap menunggu atau datang lagi besok kalau benar-benar sibuk. Yupz, akhirnya saya memilih tetap menunggu. Lalu petugas langsung mengisi di buku administrasinya dan menunjukkan tempat ruang THT. Oya saya disini mendaftar sebagai pasien umum karena saya tidak memiliki askes (expired), kartu bpjs ataupun kartu sakti jokowi (Kartu Indonesia Sehat). Jadi pengobatannya mengeluarkan dana yang lebih besar dari pasien bpjs ataupun pasien KIS.
Akhirnya saya dan adik saya sampai ke ruangan THT. Masih tetap menunggu dokternya, dan nggak berkelang waktu yang lama akhirnya dokternya datang juga. Rasanya senang tapi deg-degan takut kenapa-kenapa. Akhirnya dipanggil satu persatu pasiennya, dan tibanya giliran saya. Saya masuk ke ruang dokter THT, disini kita menceritakan keluhan yang kita hadapi. Setelah itu telinga saya diperiksa dengan alat ntah apa namanya. Sesudah itu saya diajak ke kursi alat penyedot kotoran telinga. Disitulah telinga kanan saya disedot kotorannya, pertama telinga saya dikasih cairan dingin, sesudah itu disedot dengan alat penyedot. Rasanya pertama biasa saja, tapi lama kelamaan sakit nahannya. Dokternya menyuruh saya bertahan dan posisi mata nggak boleh dipejam. Selesai sudah, ada perubahan pendengarannya menjadi lebih baik. Tapi setelah di cek telinga kiri saya juga ada gumpalan kotoran. Akhirnya pembuangan ditunda dilanjutkan ke pengobatan yang kedua. Dokter langsung membuat resep, dan saya dipersilahkan keluar untuk menunggu daftar resep dan rincian biayanya. Saya dan adik saya duduk diluar, sambil menunggu panggilan resep. Nggak berkelang lama, saya di panggil dan asisten dokter itu memberikan nota biaya yang harus saya bayar. Langsung saya menuju ke kasir untuk membayar biaya pengobatan. Dan saya balik ke ruangan dokter THT untuk memberikan bukti pembayaran sekaligus mengambil resep. Setelah itu saya ke apotik untuk membeli obat. Obat yang diresepkan dokter THT ini yaitu obat tetes telinga "Ottopain". Mengenai biayanya, saya share bagian bawah. Selesai sudah akhirnya saya kembali ke rumah dengan senang.

Rincian biaya pengobatan pertama (28 Desember 2015)
*administrasi, konsul, tindakan, dll : Rp. 216.000
*obat tetes "ottopain" : Rp. 43.600,-
*resep : Rp. 1.500,-

Penggunaan obat tetes "Ottopain":
Ditetes sebanyak 3x di telinga kanan dan telinga kiri. Dipakai pagi, siang, dan malam hari. Tergantung anjuran dokter ya readers. Beda masalah beda solusi. Hhe. Oya obat tetes ini cepat expired setelah dibuka. Obat tetes ini cuma bisa digunakan selama 7 hari s.d 10 hari. Lewat 10 hari, obat tetes "Ottopain" tidak bisa digunakan lagi.

Hal-hal yang dirasakan menggunakan obat tetes ottopain ini:
Obat ini bereaksi melunakkan kotoran sehingga kotoran itu mengembang dan di telinga terasa ada gumpalan. ya sesuai dengan nama obatnya Ottopain Ear Drops. Pendengaran saya jadi terganggu, karena gumpalan kotoran efek obatnya. Saya pikir telinga saya kenapa-kenapa, setelah saya googling ternyata hampir sama efek yang dirasa dari obat tetes tersebut. Bukan efek negatif ya readers, tapi ini emang kerja obat tetes tersebut. Oya ini untuk kasus telinga yang banyak gumpalan kotoran, bukan yang kemasukan air ya. Jadi efeknya tentu beda. Duka saya memakai obat tetes ini, selama 7 hari telinga saya terasa bergumpal dan nggak sabar berobat yang kedua kalinya.

Pengobatan kedua (6 Januari 2016)
Saya berobat lagi kedua kalinya dikarenakan disuruh dokter untuk berobat lagi. Keluhan kali ini, telinga saya terasa ada gumpalan setelah saya pakai obat tetes telinga "ottopain". Dan saya meminta untuk membersihkan kedua telinga saya. Seperti proses pertama, disedot dengan alat penyedot. Alhasil telinga saya jadi bersih dan pendengaran kembali seperti kala. Saya cuma dikasih vitamin " Meviton" sebagai suplemen makanan dan daya tahan tubuh.

Rincian biaya pengobatan kedua
(6 Januari 2016)
*administrasi, konsul, tindakan, dll : Rp. 216.000
*vitamin "Meviton" Rp. 16.500

Penggunaan tablet vitamin "Meviton":
Diminum 1xsehari (hitungan dalam 24jam). Efeknya bisa menyembuhkan sakit, kebetulan saya lagi flu dan batuk pas minum tablet tersebut selama 4 hari, flu & batuk saya hilang. Alhamdulilah.

Share this article :

+ comments + 2 comments

July 3, 2016 at 3:45 PM

Sakit bgt atau gmn? Jadi takut :-(

Rudi
August 19, 2016 at 4:36 PM

Kalo boleh tau, rs apaya?

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda di bawah ini. No Spam ! No Sara !

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2015. Monalia Sakwati . All Rights Reserved.
Created by Monalia Sakwati